Di tengah dinamika pendidikan yang terus berubah, SMA Praxis Yogyakarta hadir dengan semangat pembaruan. Sekolah ini didirikan oleh praktisi dan penggerak pendidikan yang percaya bahwa pembelajaran seharusnya menumbuhkan kreativitas, kolaborasi, dan rasa ingin tahu siswa sejak dini. Dengan latar belakang yang kuat di bidang desain kurikulum dan pendidikan berbasis proyek, para founder SMA Praxis Yogyakarta ingin menghadirkan pengalaman belajar yang lebih kontekstual dan relevan dengan dunia nyata.
Saat Sains, Seni, dan Teknologi Bertemu di Ruang Kelas Melalui Pendekatan STEAM
Di SMA Praxis, sains tidak berdiri sendiri sebagai rumus dan teori, begitu juga seni bukan sekadar ekspresi tanpa arah. Keduanya dipertemukan dalam proyek-proyek pembelajaran yang menuntut kolaborasi lintas disiplin, di mana siswa belajar berpikir logis sekaligus kreatif, menggabungkan pengetahuan ilmiah dengan imajinasi artistik dan keterampilan teknologi.
Pendekatan STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics) yang diterapkan di sekolah ini menjadikan ruang kelas sebagai laboratorium ide. Setiap kegiatan belajar dirancang agar siswa memahami konsep, mencoba, gagal, memperbaiki, dan menemukan solusi sendiri. Mereka tidak hanya diajak menjawab pertanyaan, tetapi juga belajar merumuskan pertanyaan yang tepat. Hal tersebut melatih kemampuan yang menjadi kunci dalam menghadapi perubahan zaman.
Dalam praktiknya, siswa dapat mengerjakan proyek sederhana seperti menciptakan karya seni dari bahan daur ulang berbasis prinsip fisika, atau merancang alat bantu ramah lingkungan dengan memadukan pengetahuan teknologi dan desain. Guru berperan bukan sebagai pusat pengetahuan, melainkan sebagai fasilitator yang menumbuhkan rasa ingin tahu dan keberanian bereksperimen.
Filosofi belajar ini sangat sejalan dengan pandangan Aishah Prastowo, salah satu pendiri dan akademisi lulusan Oxford University. Dalam sebuah wawancara dengan LPDP Kemenkeu, ia menyampaikan:
“Jangan takut atau merasa minder, jangan down. Kalau misalnya dirasa belum memberi impact yang besar, ya justru impact-impact yang kecil ini yang bisa lebih dirasakan manfaatnya buat orang-orang sekitar.”
Pandangan ini merefleksikan cara SMA Praxis melihat pendidikan sebagaimana perubahan besar dimulai dari langkah-langkah kecil, dari keberanian untuk mencoba hal baru di ruang kelas. Di sini, proses belajar tidak hanya mencetak nilai, tetapi menumbuhkan manusia pembelajar yang reflektif dan adaptif terhadap tantangan masa depan.
Pendekatan STEAM, Pilihan bagi Siswa dengan Cara Belajar yang Lebih Hidup
Model pembelajaran berbasis STEAM menjadi daya tarik tersendiri bagi siswa yang lebih suka belajar melalui praktik dan eksplorasi dibanding sekadar teori. Pendekatan ini cocok untuk mereka yang ingin mengembangkan minat lintas bidang, seperti sains dan seni, atau yang merasa metode konvensional belum cukup menggugah rasa ingin tahu mereka. Bagi orang tua, model seperti ini juga memberikan ruang lebih luas untuk melihat potensi anak secara utuh bukan hanya dari nilai ujian, tetapi juga dari kemampuan berinovasi dan bekerja sama.
Semangat berinovasi tidak berhenti di ruang kelas. Bagi SMA Praxis, pembaruan juga berarti menghadirkan sistem pengelolaan sekolah yang modern dan efisien. Karena itu, sekolah ini mulai melangkah ke arah digitalisasi sebagai bagian dari komitmen menghadirkan pengalaman belajar yang menyeluruh, baik bagi siswa, guru, maupun pengelolanya.
Langkah Digitalisasi Pertama bersama Skoola

Untuk memperkuat pengelolaan sekolah, SMA Praxis kini memulai transformasi digitalnya bersama Skoola, sebuah sistem informasi manajemen sekolah (SIM Sekolah) terintegrasi karya anak bangsa. Langkah pertama yang diambil adalah digitalisasi proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan fitur PPDB Online dari Skoola.
Dengan sistem ini, seluruh alur pendaftaran mulai dari pengisian formulir, seleksi, hingga pengumuman hasil dapat dilakukan secara lebih efisien dan transparan. Bagi tim SMA Praxis, penggunaan Skoola bukan sekadar mempermudah administrasi, tetapi juga menjadi pintu masuk menuju pengelolaan sekolah yang lebih terintegrasi di masa depan.
Lebih dari Sekadar PPDB, Skoola Hadirkan Solusi Menyeluruh
Sistem informasi manajemen akademik sekolah, Skoola sejatinya memiliki beragam fitur unggulan lain untuk mendukung operasional sekolah secara menyeluruh. Mulai dari manajemen keuangan, absensi, nilai rapor digital, komunikasi guru-orang tua, hingga integrasi data yayasan.
Langkah yang diambil SMA Praxis menjadi contoh nyata bahwa digitalisasi sekolah tidak harus dilakukan secara sekaligus. Justru dengan memulai dari satu langkah yang terukur, sekolah dapat menumbuhkan budaya digital yang berkelanjutan.
Kolaborasi untuk Masa Depan Pendidikan yang Lebih Bermakna
Kehadiran SMA Praxis sebagai sekolah berbasis STEAM dan kolaborasinya bersama Skoola menggambarkan arah baru pendidikan Indonesia. Dari sanalah kreativitas, teknologi, dan nilai-nilai kemanusiaan berjalan seimbang.
Skoola percaya bahwa setiap sekolah memiliki cara unik untuk berkembang, dan digitalisasi hanyalah sarana untuk memperkuat hal itu. Dengan langkah awal yang diambil SMA Praxis, kita dapat melihat masa depan pendidikan yang lebih adaptif, relevan, dan memanusiakan proses belajar sedang dibangun, satu inovasi kecil pada satu waktu untuk Indonesia Emas.
