Digitalisasi sekolah dasar kini menjadi salah satu langkah yang banyak ditempuh sekolah untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan. Namun, bagi SD Muhammadiyah Sokonandi Yogyakarta, transformasi digital bukan semata tentang menghadirkan teknologi baru di lingkungan sekolah. Lebih dari itu, digitalisasi dipandang sebagai upaya membangun hubungan yang semakin terbuka antara sekolah dan orang tua.
Bagi setiap orang tua, mempercayakan pendidikan anak kepada sekolah bukanlah keputusan yang sederhana. Selain berharap anak memperoleh pembelajaran yang berkualitas, mereka juga ingin merasa tenang karena mengetahui bahwa setiap proses di sekolah berjalan dengan baik, mulai dari komunikasi, administrasi, hingga perkembangan belajar anak.
Kepercayaan itulah yang ingin terus dijaga oleh SD Muhammadiyah Sokonandi.
Di tengah perkembangan teknologi, ekspektasi orang tua terhadap layanan pendidikan juga ikut berubah. Mereka tidak lagi hanya membutuhkan informasi saat rapat orang tua atau melalui grup percakapan. Orang tua menginginkan akses informasi yang cepat, akurat, dan dapat diperoleh kapan saja tanpa harus bergantung pada jam operasional sekolah.
Sriningsih Wahyu Pangesti, S.H., Kepala Bidang Humas SD Muhammadiyah Sokonandi Yogyakarta, menjelaskan bahwa kebutuhan tersebut menjadi salah satu alasan sekolah mulai mengimplementasikan sistem digital yang terintegrasi. Tujuannya bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi, melainkan menghadirkan pelayanan yang lebih transparan, cepat, dan akuntabel bagi seluruh warga sekolah.
Sebelum proses digitalisasi dilakukan, beberapa layanan sekolah masih berjalan secara manual sehingga penyampaian informasi tertentu masih bergantung pada komunikasi antara orang tua dan pihak sekolah. Kondisi tersebut tentu tetap dapat berjalan dengan baik, tetapi membutuhkan waktu lebih panjang dan berpotensi menimbulkan perbedaan informasi apabila tidak dikomunikasikan secara optimal.
“Kami ingin memberikan pelayanan yang transparan, cepat, dan akuntabel,” ungkap Sriningsih.
Bagi SD Muhammadiyah Sokonandi, inilah makna utama digitalisasi sekolah dasar. Teknologi bukan hadir untuk menggantikan peran guru maupun tenaga kependidikan, melainkan menjadi jembatan yang memperkuat hubungan antara sekolah dan keluarga melalui akses informasi yang lebih terbuka.
Digitalisasi Sekolah Dasar Dimulai dari Transparansi Administrasi
Untuk mewujudkan komitmen tersebut, SD Muhammadiyah Sokonandi memilih Skoola, platform manajemen sekolah yang membantu mengintegrasikan berbagai layanan, mulai dari administrasi, komunikasi, hingga pembelajaran dalam satu ekosistem digital.
Melalui platform ini, sekolah tidak perlu lagi mengelola berbagai proses secara terpisah. Guru, tenaga kependidikan, siswa, dan orang tua memperoleh akses informasi sesuai kebutuhan masing-masing sehingga koordinasi menjadi lebih sederhana dan efisien.


Sebagai tahap awal implementasi, SD Muhammadiyah Sokonandi memprioritaskan digitalisasi administrasi keuangan. Area ini dipilih karena menjadi salah satu layanan yang paling sering berhubungan dengan orang tua.
Sebelumnya, orang tua harus menghubungi pihak sekolah untuk memastikan tagihan yang belum dibayarkan atau meminta konfirmasi apakah pembayaran sudah diterima. Seluruh proses tersebut membutuhkan komunikasi dua arah dan bergantung pada waktu layanan sekolah.
Kini, melalui Skoola, informasi tersebut dapat diakses secara mandiri.
Orang tua dapat melihat tagihan yang harus dibayarkan, riwayat pembayaran, hingga status pelunasan secara real time. Mereka tidak perlu lagi datang ke sekolah atau menghubungi bendahara hanya untuk memastikan status pembayaran.
Menurut Sriningsihi, perubahan ini diharapkan mampu mengurangi potensi kesalahan komunikasi yang sebelumnya dapat terjadi ketika proses administrasi masih dilakukan secara manual.
“Harapannya wali murid sudah tahu kebutuhan yang harus dibayar, kekurangannya apa, dan yang sudah terbayar apa.”
Selain memberikan kemudahan bagi orang tua, sistem administrasi digital juga membantu sekolah memperoleh laporan keuangan yang lebih terstruktur. Data pembayaran dapat dipantau berdasarkan jenis tagihan maupun periode tertentu sehingga proses administrasi menjadi lebih rapi dan efisien.
Bagi SD Muhammadiyah Sokonandi, transparansi administrasi menjadi langkah awal untuk membangun kepercayaan yang lebih kuat antara sekolah dan orang tua.
Mendorong Orang Tua Lebih Terlibat dalam Pendidikan Anak
Bagi SD Muhammadiyah Sokonandi, digitalisasi bukan hanya tentang mempermudah pekerjaan guru atau administrasi sekolah. Lebih dari itu, transformasi ini juga menjadi upaya untuk memperkuat kolaborasi antara sekolah dan orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak.
Selama ini komunikasi antara sekolah dan wali murid umumnya berlangsung pada momen-momen tertentu, seperti saat pembagian rapor, pertemuan orang tua, atau melalui grup komunikasi ketika ada informasi yang perlu disampaikan. Pola komunikasi seperti ini tentu tetap penting, tetapi belum sepenuhnya memberikan gambaran menyeluruh mengenai aktivitas belajar anak sehari-hari.
Melalui ekosistem digital yang dibangun Skoola, orang tua memperoleh ruang yang lebih luas untuk terlibat dalam proses pendidikan. Skoola menyediakan aplikasi khusus bagi orang tua yang dirancang agar mereka dapat memantau berbagai aktivitas anak di sekolah melalui satu platform yang terintegrasi.
Melalui aplikasi tersebut, orang tua dapat mengakses berbagai informasi penting, mulai dari kehadiran siswa, jadwal pelajaran, tugas sekolah, perkembangan akademik, hingga informasi administrasi dan tagihan sekolah. Bahkan, ketika fitur transaksi non-tunai telah diterapkan secara penuh, orang tua juga dapat melakukan top up saldo sekaligus memantau penggunaan uang saku anak secara lebih aman dan transparan.
Dengan informasi yang tersaji secara real time, orang tua tidak perlu lagi menunggu laporan berkala untuk mengetahui aktivitas anak di sekolah. Mereka dapat mengikuti perkembangan belajar dari hari ke hari, memastikan kehadiran anak, melihat tugas yang harus diselesaikan, hingga memperoleh pengumuman penting langsung melalui aplikasi.
Bagi Sri Ningsih, keterbukaan informasi seperti inilah yang diharapkan mampu membangun keterlibatan orang tua secara lebih aktif. Ketika sekolah dan keluarga memiliki akses terhadap informasi yang sama, komunikasi menjadi lebih efektif dan pendampingan terhadap anak dapat dilakukan secara bersama-sama.
Ke depan, berbagai fitur pembelajaran di Skoola juga diharapkan dapat dimanfaatkan secara lebih optimal, termasuk distribusi materi belajar secara digital sebagai bagian dari upaya menuju sekolah yang lebih paperless. Dengan demikian, orang tua tidak hanya berperan sebagai penerima informasi, tetapi juga menjadi mitra sekolah dalam mendukung proses belajar anak.
Pada akhirnya, teknologi hanyalah jembatan. Nilai utama yang ingin dibangun adalah terciptanya hubungan yang lebih erat antara sekolah dan keluarga, sehingga setiap anak memperoleh dukungan yang konsisten, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah.
Menuju Sekolah yang Lebih Modern dan Paperless
Perjalanan digitalisasi di SD Muhammadiyah Sokonandi masih terus berlanjut. Selain memprioritaskan sistem administrasi, sekolah juga menargetkan penggunaan materi pembelajaran digital sebagai bagian dari upaya mengurangi penggunaan kertas.


Di sisi lain, setelah administrasi mulai terdigitalisasi, rencana selanjutnya untuk mulai menyiapkan pengembangan berikutnya seperti pemanfaatan materi pembelajaran digital agar proses belajar menjadi lebih efisien. Selain dari sisi pembelajaran digital, penerapan transaksi non-tunai di lingkungan kantin juga turut menjadi perhatian lain. Langkah ini diharapkan dapat membantu siswa bertransaksi dengan lebih aman sekaligus memudahkan orang tua memantau pengeluaran anak selama berada di sekolah.
Berbagai inisiatif tersebut menunjukkan bahwa digitalisasi sekolah dasar yang diterapkan di SD Muhammadiyah Sokonandi bukan sekadar menghadirkan teknologi baru, tetapi membangun ekosistem sekolah yang lebih efisien, aman, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat ini.
Kepercayaan Menjadi Ukuran Keberhasilan Transformasi
Perjalanan transformasi digital di SD Muhammadiyah Sokonandi masih terus berkembang. Berbagai inovasi akan diterapkan secara bertahap sesuai kebutuhan sekolah dan kesiapan seluruh warga sekolah.
Dari kisah SD Muhammadiyah Sokonandi ini menunjukkan bahwa upaya transformasi digital yang baru dimulai tidak diukur dari banyaknya fitur yang digunakan, melainkan dari dampaknya terhadap kualitas layanan yang diterima seluruh warga sekolah.
Ketika orang tua dapat mengakses informasi secara mandiri, guru bekerja dengan lebih efisien, dan sekolah mampu memberikan pelayanan yang transparan, teknologi telah menjalankan fungsi utamanya sebagai pendukung, bukan tujuan akhir.
Pada akhirnya, digitalisasi sekolah bukan hanya tentang aplikasi atau sistem yang semakin canggih. Yang jauh lebih penting adalah terciptanya hubungan yang dilandasi rasa saling percaya antara sekolah, guru, siswa, dan orang tua.
Melalui komitmen tersebut, SD Muhammadiyah Sokonandi mencoba memberikan perspektif lain bahwa transformasi digital dapat menjadi langkah strategis untuk menghadirkan pengalaman pendidikan yang lebih terbuka, kolaboratif, dan berorientasi pada kebutuhan setiap keluarga.











